Ditulis oleh farida | Ditulis di pakaian bayi | Ditulis tanggal 28 May 2008
Begitu kata dokter, kebalikan dari kebiasaan yang terjadi selama ini. Memang, tak sedikit kebiasaan turun-temurun dalam merawat bayi yang bertentangan dengan dunia medis. Bagaimana kita menyikapinya?
Dalam merawat sang buah hati, hampir bisa dipastikan kita akan “dihujani” oleh segala macam nasihat ataupun larangan dari lingkungan, entah kakek-nenek, orang tua, kaum kerabat, maupun tetangga. Umumnya, nasihat/larangan tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan praktek perawatan bayi yang bersifat turun-temurun.
Namun, “seringkali nasihat dan larangan tersebut tak bisa diterima akal sehat, meskipun ada pula yang kedengarannya masuk akal,” ujar dr. Eric Gultom, Sp.A. dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam cara Ibu Bayi dan Balita di ANTeve, kerja sama nakita dengan PT Endrass Perdana. Misalnya, bayi tak boleh digendong dengan kedua tungkai memeluk tubuh ibu agar kelak tungkainya tak pengkor, bengkok, atau melengkung. Begitu pula dengan nasihat untuk membedong bayi agar kelak bentuk kakinya jadi bagus.
“Kedengarannya memang masuk akal bahwa cara menggendong dengan posisi demikian mungkin saja akan menyebabkan pengkar. Apalagi pada kenyataannya, saat lahir, tungkai bayi memang penampilannya bengkok atau melengkung,” tutur Eric yang juga berpraktek di RSIA Lestari, Cirendeu dan RS Medistra. Tapi, lanjutnya, bila dijelaskan dengan cara lain, akan tampak penjelasan tersebut kurang masuk akal.
Semua bayi, tutur Eric, kakinya memang akan tampak melengkung ketika lahir. Pasalnya, rongga rahim sangat terbatas ruangnya. Nah, agar si bayi cukup dalam rongga rahim, posisinya harus sedemikian rupa sehingga kedua tungkai dalam posisi bersila dan melengkung ke atas. “Tentunya dalam posisi demikian selama 9 bulan, akan menyebabkan kedua tungkai penampilannya melengkung ketika lahir.” Selain itu, tulangnya masih lebih lunak dan sedang bertumbuh sehingga gampang sekali terbentuk melengkung.
Kendati demikian, tungkai yang melengkung ini berangsur-angsur akan lurus kembali sejalan dengan pertumbuhan bayi. Kecuali bila ada faktor genetik dimana salah satu orang tua penampilan tungkainya tak lurus atau melengkung, akan diturunkan pada anaknya. Jadi, tukas Eric, “melengkung tidaknya tungkai tak tergantung posisi ketika menggendong bayi.” Begitupun bila bayi tak dibedong, kakinya akan tumbuh lurus sesuai potensi genetik yang dimilikinya.
Membahayakan Bayi
Berbagai praktek perawatan bayi yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan turun-temurun ini, menurut Eric, seringkali bukan hanya kurang dapat diterima dasar ilmiahnya, tapi juga bisa merugikan. Misalnya, pemakaian gurita untuk bebat perut bayi. Kata orang, supaya bayi jangan masuk angin.” Ada pula yang bilang, agar perutnya enggak besar dan pusarnya enggak bodong.
Dalam dunia medis, tuturnya, tak dikenal istilah masuk angin. “Istilah ini mungkin maksudnya aerophagia, yaitu bayi banyak mengandung udara di lambungnya sehingga terlihat kembung. Hal ini bisa disebabkan bayi menangis lama atau cara minum susu botol kurang betul.” Jadi, Bu-Pak, sama sekali tak ada kaitannya dengan pemakaian gurita.
Begitupun dengan perut besar dan pusar bodong. “Besar kecilnya perut ditentukan oleh ketebalan kulit, lemak kulit, dan otot perut yang sanggup menahan daya dorong isi perut atau usus keluar. Secara alamiah, usus, kan, berusaha mendorong keluar,” terang Eric. Nah, pada bayi, lanjutnya, kulit maupun lemak dan ototnya masih tipis karena belum tumbuh, sehingga belum mampu menahan ususnya yang mendorong keluar. Jadilah si bayi kelihatannya seperti kembung, perutnya agak besar. “Nanti, bila kulit dan lemak serta ototnya sudah lebih tebal, akan lebih sanggup menahan daya dorong tersebut.” Jadi, tak akan gendut lagi, kecuali kalau makannya memang banyak.
Sama halnya dengan pusar bodong, “Bila perutnya membesar, tentu pusarnya akan menonjol, dong,” tukas Eric. Tak demikian halnya setelah ketebalan kulit, lemak kulit, dan ototnya bertumbuh menjadi lebih tebal. Jadi, bukan lantaran dipakaikan gurita maka pusarnya jadi enggak bodong. Jikapun si bayi sampai punya pusar bodong, menurut Eric, karena bagian dari puntung tali pusatnya memang sejak awalnya sudah lebih besar. “Jadi, sejak lahir pusarnya memang sudah bodong, bukan karena tak dipakaikan gurita.”
Pemakaian gurita, tutur Eric lebih lanjut, sebenarnya justru dapat merugikan bayi. “Bayi jadi kepanasan dan banyak keringat sehingga bisa mengalami keringet buntet di bawah lapisan gurita.” Selain itu, bila pemakaian gurita terlalu ketat, “akan mengganggu gerak pernafasan bayi.” Soalnya, bayi bernafas lebih dominan menggunakan gerak pernafasan perut.
Jadi kalau kita bebat dia erat-erat di bagian perut, tentu akan mengganggu pernafasannya.”
gurita secara penelitian ternyata dapat meningkatkan kejadian gastroesofageal refluks (GER). Apakah GER itu? GER adalah kembalinya makanan yang telah masuk ke dalam lambung.
Apa bedanya dengan muntah? Muntah termasuk dalam GER. Tetapi gampang sekali melihat anak muntah, karena isi lambung keluar melalui mulut. Hal yang paling ditakutkan adalah isi lambung keluar kembali, tetapi tidak sampai di mulut. Jadi hanya sampai di kerongkongan saja. Keadaan inilah yang menyebabkan terlukanya dinding saluran makan dan pada akhirnya si anak akan mengalami muntah terus menerus sampai dia besar nanti.
Bagaimana melihat anak mengalami GER atau tidak? Bisa dilihat salah satunya dari jumlah gumoh. bila terjadi gumoh 1 kali tiap minum susu, hal itu tidak bermasalah. Tetapi bila terjadi gumoh walaupun bayi tidak menelan sesuatu berarti orang tua harus hati-hati. Jika perlu, hendaknya berkonsultasi dengan dokter. (Dr. Herbowo SpA)
Sumber: http://rumahkusorgaku.multiply.com


iya emang dah efektif kegunaan gurita ini…kesian baby nya..mana ntar dia bedong lagi..uhhh menyiksa
:D
anakku selalu berontak kalo dibedong, so cuman sampe umur 2 minggu dibedong. akunya sih, cuek aja nggak mbedong, cuman neneknya .. :). trus masalah gurita juga gitu .. setelah aku rawat sendiri, dia tak pernah aku pakaikan gurita atas saran kakakku yang pernah konsul ke dokter spesialis anak. btw.. thx artikelnya .. dan selamat atas websitenya, menambah wawasan.
artikelnya bagus. mau saya print utk mertua. slm ini saya gak pernah pakai gurita utk anak saya krn alasa spt diatas. tp mertua saya baweeeeeel bgt
jadi daripada ribut, biar saya print artikel ini utk beliau baca. Thanks
sama2.
semoga mertua berbesar hati dan asyik utk diajak diskusi ya.. buat cucunya ini
salam utk mertua terkasih.
Saat aq baca ini kebetulan anakku baru 42 hari,aq setuju banget sama artikel ini….anakqu selalu nangis kenceng klo lg dibedong…kasiaaaaan bgt…klo lg tdr dibedong juga sering kebangun nangis menjerit…jd tdrnya keganggu klo dibedong…
tp bnyk orang yang selalu menegur knp anakqu ga dibedong…dengan alasan inilah itulah mereka komentar….
nanti aq kasih aza artikel ini ya….he2….
:)thanks…..
sama2 mom yulia
betul sekali apa yang dipaparkan dalam artikel ini, saya sangat menyetujuinya, namun di asia memang perlakuan terhadap wanita hamil sampai melahirkan banyak dipengaruhi faktor budaya turun temurun yang tidak logis sama sekali penjelasan alasannya. Seperti halnya dengan larangan keramas pada ibu paska melahirkan. Bagaimana bisa dilakukan larangan keramas selama 40 hari jika cuaca panas dan byk berpeluh, bayi dan keluarga lain bisa pingsan mencium bau keringat ibu yang tidak keramas. tidak logis bukan?justru malah membahayakan kesehatan semuanya. gurita sejak jaman dulu memang dipercara untuk mencegah hernia umbilikalis/bodong pada bayi baru lahir, namu secara medis kita tidak menganjurkan karena bisa menggangu pernapasan dan pencrnaan bayi terutama saat bayi menangis atau bergerak aktif. Namun kita tidak dapat menolak mentah2 budaya tersebut. Oleh karena itu teknik kompromi sangat diperlukan bagi para ibu baru yang mengalami masalh seperti ini. Gurita / bedongan boleh dipakai kan pada bayi namun jangan di ikat kencang, hanya disesuaikan saja dengan kondisi bayi,jika memang perlu kehangatan silahkan gunakan, namun jika cuaca panas dan bayi yangyak berkeringat sebaiknya dilepas saja. Demikian sharing yang bisa saya bagi, semoga berguna
oo…
q bru tahu loh…
ne bisa jadi pengetahuan bwat ku kelak kalau udah nikah,,8-)
thx y.
mmmm maksud hati sih pengen ngubah kebiasaan membedong n tali gurita…tp klo ada emak2….repot dikiranya qta sok pinter,,,he2..aduh padahal aku kasian bgt ama ade kecilku….mmm semoga selanjutnya maksudku ini bisa diterima dg baik
amiin..
paling gampang pake dalil “kata dokter” aja mom.. kan emang dokternya pinter
Wah…aku sekarang lagi hamil 20minggu…berkat artikel ini aku jadi tahu banyak soal gimana ngerawat baby…apalagi ini anak pertama kami…Thanks berat ya…
bener tuhhh
anakku dulu jg gag tak pakein gurita mski sering adu mulut sama orang sekitar tapi aku pasang wajah lugu alias oke oke aja tapi tetep gag tak pakein gurita….
tapi sekarang anakku umur 2th waktu pergi ke dukun pijat kok dukunnya bilang ” bayinya dulu ini kurang gurita yaaa… oalnya ada tulang belakang yang gag lurus” jd heran….????
Well i just registered in your forum i hope to find and share some great info, a lil of me im from sudamerica i got a lil website of diseño web thats web design in english u might check out sometime . Well im a very friendly person u can pm anything u want.I mean a spanish english translation or anything just send a pm
have you ever wanted to create a software on your own ?
well it has never been easier : just take a look at this website i believe they are doing a greate job
chachia.net
i created my first software in 13 mins.
well its not a supper software its just to handel my couses in the university
i can give you a copy if you want just pm me
Betul. Masalah gurita dan bedong ini bisa menjadi sumber perkara antara mama dan nenek si bayi. Kadang hanya dengan mengutip kata “menurut dokter” saja tidak cukup, biasanya karena orang tua merasa lebih berpengalaman (meskipun pengalaman mereka belum tentu benar dan logis). Menurut pengalaman, keputusan untuk tidak memakaikan bedong atau gurita pada bayi bisa saja tetap dilaksanakan meskipun menyebabkan banyak pertanyaan dan teguran terutama dari orang tua, akan tetapi situasi tersebut bisa menjadi sumber stress bagi mama baru dan menimbulkan/memperpanjang masa baby blues syndrome. pesan untuk para nenek: tolong sedikit lebih kritis, terbuka dan peka, anda tentu tidak menganggap puteri atau menantu anda (yang anak anda pilih sebagai pendamping hidup) sangat bodoh atau malas bukan, sehingga mengambil keputusan tanpa dasar pertimbangan yang baik? bagaimanapun dia mama dari cucu anda yang akan melakukan apapun yg terbaik untuk anaknya. Sama seperti anda dahulu sewaktu anda melahirkan anak anda. satu hal lagi, saat mereka baru melahirkan adalah saat yg melelahkan dan sangat peka sehingga lebih membutuhkan dukungan anda daripada bahan perdebatan (kalau saja anda lupa bagaimana saat anda melahirkan dulu), apabila anda tidak tau apa yang membantu, diam dan tidak mendebat saja sudah cukup, berikan saran yg benar2 perlu atau hanya kalau diminta.
oya, 1 hal lagi. jangan sekalipun mencoba memaksakan kehendak, apalagi dengan cara melakukannya diam2 tanpa persetujuan mama si bayi. anda bisa jadi menuai badai, hahaaa… peace! ^^
makasih atas penjelasanya
artikelnya bermanfaat banget ni. Dikota saya, tradisi menggunakan gurita masih ada sampai sekarang, karena biasanya gurita ini membantu menahan kasa yang membalut pusar bayi yang belum terlepas. Kalau ga pake gurita, bagaimana cara menahan kasa yang membalut pusar bayi? tolong tips nya ya
@mom lina: kadangkala dr pihak medis sudah disediakan alat penjepit utk pusar yg blm putus. namun jika tidak diberi, kasa cukup ditangkupkan hingga seluruh bagian tali pusat terbungkus dan ujungnya disimpul dg ikatan yg tidak terlalu ketat.
semoga cukup membantu ya
Setuju..kadang mertua menginginkan yg terbaik utk cucunya namun tdk mempertimbangkan alasan ilmiah dari setiap kebiasaan jaman dulu pdhl bnyk jg mitos2 ‘org dulu’ yg perlu diluruskan artikel ini membantu saya memberikan penjelasan ke mertua saya