Ditulis oleh farida | Ditulis di ibu hamil | Ditulis tanggal 21 Nov 2008
JANIN KEMBAR MESTI BERSAING
Karenanya pada kehamilan kembar bisa saja salah satu janin gugur.
Kematian salah satu janin di usia kehamilan muda umumnya tidak dirasakan oleh ibu sampai pada pemeriksaan USG berikutnya. Namun, tidak demikian halnya jika kehamilan sudah memasuki minggu ke-24. Banyak ibu sudah dapat merasakan gerakan kedua janinnya secara terpisah atau mana janin yang sedang tidur. Jika terjadi perubahan nyata, janin yang satu aktif sementara lainnya tidak, tentu ibu dapat langsung menaruh kecurigaan dan segera menemui dokter atau bidan.
Dalam perjalanan kehamilan selanjutnya, bisa terjadi salah satu janin harus gugur sementara kembarannya mampu bertahan hidup dan lahir dengan selamat. “Meski jumlahnya relatif sangat kecil pada persentase kelahiran kembar, akan tetapi kematian salah satu janin pada kehamilan kembar sampai sekarang masih terjadi,” ujar Dr. H.M. Natsir Nugroho, Sp.OG, M.Kes. dari RS. Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan.
SATU PLASENTA, SATU KANTUNG KETUBAN
Banyak faktor yang menyebabkan kematian salah satu janin pada kehamilan kembar. Namun yang paling sering ditemukan, kata Natsir, adalah dominasi salah satu janin terhadap janin saudaranya. Diduga, inilah proses seleksi alam dimana salah satu janin menjadi dominan dan “menyingkirkan” saudaranya.
Yang jelas, gugurnya salah satu janin pada kehamilan kembar lebih banyak terjadi pada kembar identik yang berbagi plasenta. Pasalnya, pada kehamilan kembar identik, plasenta menanggung beban yang lebih berat karena harus “memberi makan” dua janin sekaligus. “Plasenta berfungsi menghantarkan nutrisi, darah, dan oksigen ke janin. Jika sumbernya hanya satu, bisa jadi si janin saling berebut hingga akhirnya salah satu harus mengalah dengan tidak berkembang lagi dan gugur atau meninggal,” papar Natsir.
Selain karena harus berbagi plasenta, salah satu janin bisa gugur atau meninggal jika mereka juga harus berbagi kantung cairan ketuban (amnion).
Sebenarnya, janin kembar identik dapat berkembang dengan baik di dalam rahim. Rahim sangatlah elastis, cukup untuk pertumbuhan normal dua janin bahkan lebih selama masing-masing memiliki kantung cairan ketuban sendiri yang melindungi mereka. Perkembangannya pun tidak akan bermasalah, bahkan mereka bisa tetap aman berbenturan kala aktif “bermain”. Mereka tak akan saling menyakiti karena kantung dan cairan ketuban mereka berbeda.
Menjadi masalah jika si kembar hanya punya satu kantung cairan ketuban yang membuat mereka “saling berebut” di dalamnya. Siapa yang kuat, dialah yang bertahan. Tentang fenomena ini, kata Natsir, apa boleh buat dokter pun tak bisa melakukan pencegahan karena merupakan seleksi alam.
INFEKSI KANTUNG KETUBAN
Kematian salah satu janin kembar juga bisa disebabkan infeksi pada cairan ketuban. Contoh, infeksi akibat keputihan yang tidak ditangani di masa kehamilan. “Infeksi ini merambat naik melewati leher rahim sehingga terjadilah infeksi pada kantong ketuban. Padahal kantong ketuban berfungsi sebagai ‘kantong pelindung’ janin,” kata Natsir.
Bila terjadi infeksi pada kantung ketuban, cairan ketuban bisa berubah warnanya menjadi hijau dan menyebabkan keracunan pada janin. Nah, jika salah satu janin kembar keracunan cairan ketuban, bisa terjadi ia mengalami gagal tumbuh atau bahkan kematian. “Penyebab ini tentu bisa dicegah dengan meniadakan segala infeksi yang dapat berakibat pada kehamilan.”
Penyebab lainnya adalah janin yang memang tidak berkembang sempurna, kelainan pada kantong ketuban itu sendiri, dan kelainan bawaan atau organ tubuh yang tidak sempurna. “Mungkin di trimester pertama janin berkembang sejajar dengan kembarannya, tapi kemudian karena hal-hal tadi dia berhenti berkembang lalu gugur.”
PLASENTA MENETAP
Gugurnya salah satu janin bisa terjadi pada trimester pertama maupun setelah enam bulan pada tahap kehamilan selanjutnya. Namun, sangat jarang keguguran terjadi pada kehamilan di atas 24 minggu. Itu karena kelambanan pertumbuhan yang terjadi selewat 6 bulan usia kehamilan sudah bisa terdeteksi. Dari situ, dokter dapat memutuskan untuk mengeluarkan si kembar lewat operasi sesar agar semuanya terselamatkan walau usia mereka masih prematur.
Jika keguguran terjadi pada tahap awal kehamilan, embrio atau mudiga yang bertahan akan terus tumbuh, sedangkan yang tidak akan diserap dan hilang hampir tanpa bekas pada plasenta. “Pada trimester pertama, umumnya kematian salah satu kembaran tidak akan menimbulkan masalah. Baru jika kematian terjadi pada tahap kehamilan selanjutnya, mungkin akan terjadi masalah.”
Itu karena plasenta janin yang meninggal tetap berada dalam rahim sehingga dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan ibu. Sedangkah kehamilannya sendiri tetap berjalan normal karena jazad si janin (lipotodion) walau mengeras tidak akan mengganggu dan akan keluar pada saat persalinan. Yang mengganggu justru plasenta bekas janin yang gugur. “Dokter tidak mungkin mengambil plasenta itu karena ibu pasti akan mengalami perdarahan. Apalagi masih ada janin dan plasenta lain dalam rahimnya.”
Plasenta yang sudah membesar, meskipun secara mekanisme akan terserap tubuh, tapi memakan waktu lebih lama, bisa berbulan-bulan, bahkan sampai setahun. Selama penyerapan berlangsung, bisa saja plasenta melekat pada usus atau dinding perut. Akibatnya akan terjadi kelainan pembekuan darah karena adanya “benda asing” ini. Kondisi ini disebut DEC (disseminated intravascular coagulation).
IBU DIMONITOR KETAT
Begitu kematian salah satu janin kembar meninggalkan plasenta, dokter akan memonitor ketat kondisi ibu dengan lebih sering melakukan pemeriksaan darah dan USG. Yang terpenting lagi adalah mengontrol kondisi darah ibu karena DEC berisiko mengganggu sirkulasi darah sehingga terjadi preeklampsia hingga stroke. Di samping itu, dokter juga selalu mengontrol perkembangan janin yang hidup.
Itulah makanya, begitu mengetahui adanya kasus kehamilan kembar yang salah satu janinnya meninggal, dokter kandungan akan langsung mendeteksi adanya pembekuan darah pada ibu. Jika indikasinya muncul, harus segera dicari solusinya semisal dengan pemberian obat-obatan. Bahkan, tanpa kematian salah satu janin pun, dokter tetap akan melakukan monitoring ketat pada ibu yang hamil kembar identik.
Pemeriksaan USG juga akan lebih sering dilakukan, antara lain untuk mendeteksi kecepatan tumbuh janin. “Bayi kembar bisa memiliki ukuran yang berbeda sejak awal dan tumbuh dengan kecepatan berbeda. Itu sebabnya ibu harus lebih sering menjalani pemeriksaan USG.”
Biasanya ukuran yang berbeda di awal tidak akan menimbulkan masalah asalkan disertai dengan tingkat pertumbuhan yang sama cepat. Masalah muncul jika ukuran awalnya sama tapi tiba-tiba salah satu janin tumbuh jauh lebih lambat dibanding yang lain. Ukuran yang berbeda nyata bisa menandakan kondisi serius yang dikenal dengan peristiwa transfusi kembar ke kembar.
JIKA IBU MERASA BERSALAH
Kematian salah satu janin tentu membuat ayah dan ibu merasa sedih meski janin yang lain dapat bertahan. “Sering timbul perasaan bersalah pada ibu, mengapa bayinya meninggal. Padahal penyebabnya bukan dari si ibu,” kata Natsir.
Karena dampak psikologis inilah, dokter kandungan biasanya akan melihat dulu kondisi pasiennya. “Pada ibu yang mentalnya cukup kuat, dokter bisa langsung memberi tahu. Tapi bila tidak, berita ini hanya disampaikan pada suami.”
Jika perlu, pendampingan psikologis dapat saja dilakukan agar ibu bisa menjalani kehamilannya dengan tenang menyambut kedatangan bayi yang sehat.
Ibu juga sering khawatir kalau kematian salah satu janin akan mempengaruhi kondisi emosional saudaranya yang bisa bertahan. “Tapi ini tak terbukti karena janin tetap bisa hidup sehat dan bahagia. Di masa depan pun bayi ini tak lantas menjadi anak agresif karena pernah ‘membunuh’ saudaranya. Semua ini tergantung pada pengasuhan,” tandas Natsir. Selanjutnya, ibu juga tak perlu khawatir dalam merencanakan kehamilan berikutnya.
DETEKSI BAYI KEMBAR
Bila Anda mempunyai riwayat keluarga kembar, maka peluang untuk hamil kembar lebih besar dibandingkan yang tidak mempunyai riwayat kembar dalam keluarga. Kehamilan kembar juga bisa terjadi pada wanita dengan kehamilan yang dibantu oleh IVF (In Vitro Fertilization) atau lazim disebut bayi tabung. Pada kehamilan lewat bayi tabung, kembar bisa tak hanya dua tapi juga lebih, bahkan sampai 6 kembar sekaligus. Saat ini, kata Natsir, jarang terjadi kehamilan alami lebih dari dua janin.
Jenis bayi kembar terbagi dua, yaitu kembar identik dan kembar tidak identik (fraternal). Kembar identik terjadi jika satu sel telur dibuahi satu sel sperma dan membelah menjadi dua. Dua embrio yang dihasilkan ini selalu berjenis kelamin sama dan identik. Keduanya mengandung materi genetik yang sama sehingga disebut sebagai monozigot. Pada kembar identik, si janin kembar akan berbagi plasenta tapi mempunyai tali pusat dan umumnya kantung ketuban yang berbeda.
Sedangkan kembar tidak identik berasal dari dua sel telur berbeda yang dibuahi dua sel sperma secara bersamaan menjadi dua embrio yang kemudian tertanam dan berkembang. Si kembar bisa berbeda rupa dan mungkin juga berbeda jenis kelaminnya. Kembar tidak identik mempunyai plasenta, tali pusat, dan kantung ketuban yang berbeda.
“Kehamilan kembar tergolong berisiko tinggi karena tuntutan terhadap ibu dan plasenta lebih besar, terutama pada kembar identik yang berbagi plasenta. Perkembangan janin dan kelahiran akan lebih bermasalah. Karena itu jika diketahui kembarnya adalah identik, ibu akan selalu dipantau dan lebih sering menjalani USG,” ungkap Natsir.
Satu-satunya cara untuk melihat apakah bayi kembar Anda identik atau tidak identik adalah melalui pemeriksaan USG pada minggu ke-10 hingga ke-14 kehamilan.
SINDROMA TRANSFUSI KEMBAR KE KEMBAR
Sindroma ini disebut juga twin-to-twin transfusion syndrome. Kondisi ini, kata Natsir, jarang terjadi dan hanya terjadi pada kembar identik yang berbagi plasenta. Umumnya terjadi pada trimester lanjut. Disebabkan oleh pembuluh darah abnormal pada plasenta yang langsung menghubungkan satu janin ke janin lainnya. Akibatnya, janin pendonor menggunakan energinya untuk memompa darah tidak saja ke seluruh tubuhnya tapi juga ke tubuh janin kembarannya (penerima). Akibatnya, janin donor tidak tumbuh dengan baik dan cairan ketubannya makin berkurang. Sementara bayi penerima tumbuh lebih besar dalam cairan ketuban yang berlebih.
Akibat peningkatan jumlah cairan ketuban yang sangat cepat, ibu dapat mengalami bengkak dan nyeri perut. Risikonya bisa terjadi kelahiran prematur.
Tentang apakah kedua janin mempunyai harapan hidup yang sama, kata Natsir, sangat bergantung pada seberapa parah dan secepat apa kondisi mereka diketahui. “Penggunaan laser untuk menghancurkan pembuluh darah yang abnormal dan menyedot cairan ketuban yang berlebihan pada kantung janin yang lebih besar pernah dicoba.”
Namun, kata Natsir, kedua cara tersebut tidak ideal. Pada kasus yang parah, malah menyebabkan kelahiran prematur, salah satu janin meninggal, atau bahkan keduanya.
Sumber: http://www.tabloid-nakita.com
Artikel Terkait:

