Mencegah lebih baik daripada mendapatkan warisan tak diinginkan tersebut.
Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Itulah mengapa, cegahlah penyakit itu agar tak sampai “mampir” pada anak. Lakukan observasi lewat data riwayat kesehatan keluarga, penyakit apa sajakah yang mungkin diturunkan kepada anak. Dengan demikian, kita dapat melakukan antisipasi, agar jangan sampai warisan tidak diinginkan itu diidap anak. Toh, untuk sebagian penyakit, kita masih memiliki waktu untuk mencegahnya.
1. OBESITAS
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Anak dikatakan obesitas jika bila beratnya lebih dari 20% dari berat idealnya. Celakanya, faktor keturunan dapat memengaruhi terjadinya kegemukan. Dari hasil penelitian gizi di Amerika Serikat, dilaporkan bahwa anak-anak dari orangtua normal mempunyai 10% peluang menjadi gemuk. Peluang itu akan bertambah menjadi 40-50% bila salah satu orangtua menderita obesitas dan akan meningkat menjadi 70-80% bila kedua orangtua menyandang obesitas. Oleh karena itu, bayi yang lahir dari orangtua yang tambun akan mempunyai kecenderungan menjadi gemuk. Gemuk di saat bayi atau anak-anak mempunyai kemungkinan sulit menjadi kurus pada waktu dewasa, disebabkan pada anak-anak sudah membentuk sel yang jumlahnya lebih dari normal.
Namun, bukan berarti obesitas tidak dapat dicegah. Angka di atas adalah risiko, karena gaya hidup sehat tetap menjadi faktor utama, apakah anak mengalami obesitas atau tidak.
Itulah mengapa, cegahlah si kecil agar tidak mengalami obesitas, tindakan itu antara lain:
Mengurangi asupan makanan kaya gula seperti minuman ringan- Hindari mengonsumsi makanan berlemak terlalu sering
- Jauhi mengonsumsi banyak camilan
- Biasakan mengonsumsi makanan dengan gizi cukup dan seimbang
- Konsumsi sayuran dan makanan kaya serat
- Melakukan aktivitas fisik untuk membakar kalori
2. ASMA
Asma juga merupakan salah satu penyakit keturunan. Dari sebuah penelitian ditemukan, 30% penyakit asma diturunkan orangtua. Faktor ibu ternyata lebih kuat menurunkan asma dibandingkan dengan bapak. Penelitian lainnya menyebutkan, orangtua penderita asma kemungkinan 8-16 kali menurunkan asma dibandingkan dengan orangtua yang tidak asma, terlebih lagi bila si anak alergi terhadap tungau debu rumah.
Itulah mengapa, bila salah satu orangtua misalnya ayah menderita asma, maka besar kemungkinan bayi yang dilahirkan dapat menderita asma di kemudian hari. Untuk itu, setiap bayi yang baru lahir dari orangtua yang mempunyai riwayat keturunan asma, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter keluarganya untuk mendapat nasihat agar anak ini tidak mengalami serangan asma di kemudian hari. Misal dengan menjaga kebersihan rumah dari debu, menjauhi makanan yang berisiko menimbulkan alergi, membersihkan binatang peliharaan secara teratur, dan lain-lain.
Bila si kecil menderita asma, lakukan pencegahan agar asmanya dapat terkontrol dan tidak mengganggu aktivitasnya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
a. Gunakan obat-obat asma sesuai anjuran dokter. Sebisanya gunakan obat-obatan hirup sebelum terpaksa memakai obat-obatan oral (diminum). Sediakan dua obat, satu untuk mencegah timbulnya asma dan satu lagi untuk mengatasi jika serangan mendadak terjadi.
b. Kenali dan hindari faktor pencetus. Setiap anak umumnya memiliki faktor pencetus berbeda, ada yang karena makanan, minuman dingin, kacang, polusi, bau cat, debu, dan sebagainya.
c. Hindari olahraga atau aktivitas fisik terlalu berlebihan, ini akan membuat asma semakin cepat kambuh.
d. Jauhi stres. Hindari dengan gaya hidup sehat. Luangkan waktu untuk bermain bersama dan berekreasi.
e. Lakukan olahraga teratur agar tubuh si kecil tetap bugar dan sehat. Badan yang sehat dapat memperingan serangan asma.
3. ALERGI
Berdasarkan penelitian ilmiah, alergi pada anak sebagian besar disebabkan faktor keturunan. Jika kedua orangtua mempunyai bakat alergi, kemungkinan anak terserang alergi sekitar 70-80%. Tapi, jika hanya salah satu orangtua yang punya alergi, kemungkinannya menurun menjadi 30%.
Selain faktor keturunan, alergi bisa tercetus karena faktor lingkungan. Faktor pencetus alergi dari luar ini disebut alergen, yang akan bekerja jika seorang anak membawa sifat alergi. Alergen ini sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu alergen hirup, makanan, dan alergen suntik. Pada alergen hirup, pemicunya paling banyak adalah tungau debu rumah, di samping serbuk sari. Reaksi alergi akibat tungau ini antara lain sesak nafas, bersin-bersin, atau batuk. Sedangkan alergen suntik disebabkan oleh gigitan serangga atau suntikan. Biasanya akan menimbulkan reaksi pada kulit, dan bentuknya bisa beragam.
Cara mencegah:
Bila ada riwayat keluarga, baik saudara kandung, orangtua, kakek, nenek, atau saudara dekat lain yang kena alergi atau asma, deteksi kemungkinan alergi ini bahkan ketika anak belum dilahirkan. Caranya:
Ibu perlu menghindari atau minimalkan penyebab alergi sejak hamil- Hindari pencetus alergi dari lingkungan, contoh kecoak, serta tungau yang sering ada pada karpet, kasur kapuk, sofa, gorden. Juga bulu binatang peliharaan seperti kucing, anjing.
Tunda pemberian makanan penyebab alergi seperti telur, kacang tanah, dan ikan, sampai usia di atas 2-3 tahun- Bila membeli makanan kemasan, biasakan untuk melihat komposisi bahan penyusunnya
- Bila bayi minum ASI, ibu juga perlu menghindari makanan penyebab alergi. Bila ASI tidak memungkinkan, gunakan susu formula hipoalergenik
Cara mengatasi:
Jika anak telanjur menyandang alergi, sebaiknya:
- Identifikasi pencetusnya dan hindari. Jika anak alergi debu, maka bersihkan karpet, boneka, kain, dan sebagainya.
- Obat-obatan antialergi dapat digunakan tapi dalam jangka panjang tidak dianjurkan.
4. BUTA WARNA
Cirinya, antara lain anak sulit membedakan beberapa warna seperti hijau dengan biru dan merah dengan biru. Ibu biasanya berperan sebagai pembawa (carrier) dalam gangguan buta warna. Namun, ibu pembawa gen ini mungkin saja memiliki penglihatan normal dan tidak buta warna. Jika ibu “pembawa” (carrier) memiliki anak laki-laki, maka 50% anak itu berisiko menderita buta warna. Jika seorang wanita buta warna, anak lelakinya pasti buta warna. Buta warna umumnya jarang terjadi pada anak perempuan.
Cara mendeteksi anak yang mengalami buta warna:
- Sering salah menyebutkan warna.
- Tidak dapat membedakan beberapa warna seperti hijau, biru, merah, dan sebagainya.
Cara mengatasi:
Anak buta warna tidak mengalami hambatan secara fisik dan kesehatan. Anak dapat hidup, beraktivitas, sekolah, dan merintis karier seperti anak-anak lainnya. Bahkan beberapa anak tidak sadar dirinya buta warna hingga suatu ketika dilakukan tes buta warna. Hal yang dapat dilakukan orangtua adalah membantu anak saat pemilihan kariernya karena ada beberapa profesi yang mungkin tidak dapat dilakoninya secara maksimal. Tidak masalah, toh masih banyak ratusan profesi lainnya yang dapat digeluti.
Narasumber: dr. Sugito Wonodirekso, M.S.,
Ketua Perkumpulan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Pusat
Artikel Terkait:

