Ditulis oleh farida | Ditulis di ibu menyusui | Ditulis tanggal 11 Mar 2009
Relaktasi hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu: membiarkan bayi Anda menyusu sesering mungkin pada payudara Anda. Frekuensi menyusui ini setidaknya adalah 10 kali dalam 24 jam, atau lebih jika memang bayi Anda menginginkannya.
Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda tempuh untuk meningkatkan frekuensi menyusui bayi Anda:
- Cobalah untuk menyusui bayi Anda setiap 2 jam sekali.
- Biarkan bayi Anda menyusu kapan pun, setiap kali ia terlihat berminat.
- Anda harus membiarkan bayi Anda mengisap payudara sekitar 30 menit setiap kali ia menyusu, jika dimungkinkan. Atau secara bertahap dapat ditingkatkan durasi menghisapnya tersebut, dimulai dari sekurangnya 15 menit pada saat menyusu.

- Cobalah untuk selalu bersama bayi Anda, terutama pada malam hari ketika hormon prolaktin (penghasil ASI) sedang banyak-banyaknya dihasilkan, sehingga dapat setiap saat menyusui bayi Anda.
- Gunakan suplementer menyusui sebagaimana yang telah ditunjukan oleh Konsultan Laktasi Anda.
- Sebagai permulaan, Anda harus memberikan seporsi penuh susu (formula atau Asper) sesuai dengan berat badan bayi Anda, atau dalam jumlah yang sama seperti yang dikonsumsi sebelumnya.

- Segera setelah ASI Anda mulai keluar sedikit, porsi susu (formula atau ASIP) tersebut dapat dikurangi sebanyak 30-60ml dalam sehari, sampai habis.
- Jika bayi kadang-kadang masih menyusu, pasokan ASI dapat meningkat dalam beberapa hari. Jika bayi sudah berhenti menyusu, mungkin diperlukan beberapa minggu untuk menghasilkan kembali pasokan ASI.
- Lamanya Anda berhenti menyusui dapat dijadikan tolak ukur kasar mengenai jangka waktu relaktasi. Misalnya, jika Anda baru berhenti menyusui 2 hari, maka Anda akan membutuhkan 2 hari untuk menghasilkan kembali pasokan ASI Anda. Namun, jika Anda telah berhenti menyusui selama 1 bulan, mungkin akan dibutuhkan 1 bulan pula untuk menghasilkan ASI kembali.

- Relaktasi lebih mudah jika bayi sangat muda (kurang dari 3 bulan), daripada jika bayi berumur lebih dari 6 bulan. Namun, relaktasi dimungkinkan pada usia berapa saja.
- Relaktasi lebih mudah jika bayi baru saja berhenti menyusu dibandingkan dengan bayi yang sudah lebih lama berhenti menyusu. Namun, relaktasi dimungkinkan kapan saja.
Pastikan bahwa ketika menyusui, posisi badan Anda, posisi badan dan posisi pelekatan bayi Anda sudah benar, nyaman dan tepat.
Secara perlahan, kurangi dan hentikan pemberian makanan (susu formula) lewat botol yang menggunakan dot bayi. Gantilah dengan metode pemberian melalui cangkir, sendok, pipet ataupun dengan jari tangan. Sebaiknya Anda tidak memberikan empeng pada bayi Anda. Gantilah kebiasaan comfort sucking bayi Anda pada empeng dengan comfort sucking pada payudara Anda.
Jika bayi Anda menolak mengisap payudara yang ’kosong’, Anda dapat memberikan susu (formula atau ASIP) pada saat bayi Anda sedang mengisap payudara Anda melalui cara berikut ini:
Selama masa relaktasi ini, periksalah secara teratur hal-hal sebagai berikut untuk memastikan bahwa bayi Anda tidak kekurangan makanan: 
- kenaikan berat badannya, yaitu sekurangnya 500gr dalam sebulan
- frekuensi harian BAK (5-6 kali) dan BAB (minimal 1 kali) bayi Anda
Kenyataan dan Harapan
Yang terpenting bagi Anda adalah hindari segala perasaan negatif, terutama perasaan kecewa, jika ternyata
setelah berakhirnya masa relaktasi pasokan ASI Anda tidak sebanyak sebelum Anda berhenti menyusui. Memberikan bayi Anda ASI, berapapun jumlah, sangat jauh lebih bermanfaat daripada tidak memberikan ASI sama sekali. Jadi, walaupun pada akhirnya Anda tetap harus memberikan susu formula bersamaan dengan ASI Anda, Anda dan bayi Anda dapat bersama-sama menikmati kembali kedekatan fisik dan batin, serta masa-masa hangat kegiatan breastfeeding.
Fokuskan segala perasaan positif Anda pada bayi Anda, dan bukan pada seberapa banyak ASI yang dapat Anda hasilkan. Selamat mencoba.
Sumber: aimi-asi.org
Artikel Terkait:
Tenaga Medis Anda Mendukung ASI?


artikelnya bagus banget, memberikan harapan baru bagi saya untuk mulai menyusui lagi. saya melahirkan dengan cara operasi sesar,setelah operasi asi melimpah,namun saya trauma karena pada malam pertama saya pertama kali menyusui (setelah seminggu tidak bertemu si bayi karena terpisah ruangan dirumah sakit) bayi saya menangis terus karena asi saya sedikit,saya takut kenapa2 jadi keesokan harinya saya memberinya susu formula tapi masih tetap didampingi asi walaupun sedikit. tapi seminggu terakhir ini saya berhenti menyusui sama sekali karena pada saat saya memerah asi dengan tangan muncul cairan berwarna coklat yang keluar dari bintik2 di areola,kira2 aman atau tidak ya untuk tetap menyusui? mohon bantuannya
diusahakan saja bu.
silakan berkonsultasi ke klinik laktasi.
semoga berhasil ya