Ditulis oleh farida | Ditulis di bayi, ibu hamil, persalinan, rumahtangga | Ditulis tanggal 10 Jun 2009
Baby blues adalah perasaan kacau-balau yang melanda ibu yang baru melahirkan. Konon 80% perempuan mengalaminya setelah persalinan. Detik ini senang karena punya bayi, detik berikutnya tiba-tiba sedih dan menangis bercucuran airmata. Susah untuk konsentrasi pada sesuatu, hilang selera makan, susah tidur, terkadang timbul perasaan ingin marah terus, mudah panik setiap kali bayi menangis dan kebingungan harus melakukan apa.
Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan apabila terserang gejala-gejala di atas:
Langkah pertama
Sebelum si bayi lahir, waspadalah dan kenalilah gejala-gejala baby blues seperti di atas. Hal ini sangat berguna dalam menghadapi ’sambaran’ si baby blues. Misalnya, ketika perasaan kita kacau-balau setelah melahirkan, pengetahuan tentang gejala baby blues akan membuat kita berpikir, “Oh, ini normal, dan akan hilang seminggu-dua minggu lagi.”
Langkah kedua
Lepaskan saja emosi, tidak usah ditahan. Mau menangis atau marah, dikeluarkan saja. Sadarilah, bahwa kondisi ini normal dan dialami oleh hampir semua ibu, jadi tidak perlu ada rasa bersalah, apalagi merasa ”Aku ini bukan ibu yang baik”. Di sini pemahaman suami sangat diperlukan, jadi sebelum melahirkan, perkenalkan apa itu baby blues pada suami.
Langkah ketiga
Usahakan tidur sebanyak mungkin (bahkan kalau ada kesempatan 10 menit pun, gunakan untuk tidur). Namun, supaya si ibu bisa tidur enak, ada hal-hal yang perlu dilakukan. Jangan pedulikan keadaan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, dll. Memikirkan hal itu malah membuat resah dan susah tidur. Yang penting tidur dahulu, urusan lain menyusul.
Buat manajemen pasca kelahiran (sebelum bayi lahir, perkirakan situasinya: misalnya suami harus kerja, anak harus sekolah, lalu buat planning untuk me-manage segala sesuatunya. Dengan cara ini, pasca melahirkan, kondisi rumah akan terkendali). Contoh manajemen pasca melahirkan adalah antara lain seperti memasak banyak masakan lalu simpan di kulkas, jadi setiap akan makan, tinggal dihangatkan, tidak perlu repot-repot masak lagi. Beri tahu suami dan si kakak tempat meletakkan barang-barang kebutuhan mereka, sehingga tidak ada kejadian ketika sang ibu sedang tidur, suami teriak, “Maaa…bajuku yang biru itu dimana?”.
Bila sudah ada si kakak, pikirkan bagaimana caranya agar si kakak tidak mengganggu tidur ibu. Bila memungkinkan, sewalah pengasuh (nanny), minimalnya untuk 1-2 bulan setelah melahirkan, ini akan menyelesaikan banyak masalah.
Langkah keempat
Segarkan diri Anda, antara lain dengan cara mandi berlama-lama (tentu saja, ketika ada si ayah yang menunggui bayi). Dandan yang cantik (melihat diri di cermin dan menatap penampilan lusuh dan lesu diri sendiri pasca melahirkan sangat mungkin akan menambah stres).
Telponlah ibu, kakak, adik, atau teman-teman (jadi sebelum melahirkan, anggaran telepon pasti akan membengkak). Berbicara dengan orang lain adalah salah satu obat terbaik dalam mengatasi baby blues. Yang dibicarakan tidak harus melulu tentang bayi, lebih baik lagi tentang hal-hal lain.
Kalau sudah kuat jalan, pergilah jalan-jalan ke taman dekat rumah bersama suami, atau, bila sanggup, jalan-jalan sendiri saja ke mal untuk cuci mata atau shopping untuk diri sendiri.
Langkah Kelima
Sadarilah bahwa badai pasti berlalu. Rasa sakit setelah melahirkan pasti akan sembuh, rasa sakit ketika awal-awal memberi ASI pasti akan hilang, teror tangis bayi lambat laun akan berubah menjadi ocehan dan tawa yang menggemaskan, bayi yang “menjengkelkan” (karena menangis dan minum ASI terus) beberapa bulan lagi akan menjadi bayi mungil yang menakjubkan, dst.
Setiap kali merasa susah hati, ingatlah betapa beruntungnya kita karena telah dikaruniai anak. Ucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya untuk mengingat bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, lelah, dan lain-lain, tidak ada apa-apanya dengan nikmat karunia anak yang sehat dan lucu.
Catatan:
Waspadalah bila perasaan kacau-balau itu belum juga sembuh setelah lewat tiga minggu, berarti si ibu sudah terkena depresi dikenal (dengan istilah Post-Partum Depression). Kondisi ini benar-benar harus diwaspadai. Apalagi, bila sampai terlintas pikiran-pikiran aneh, seperti perasaan “Aku sepertinya akan melukai diriku sendiri atau bayiku” atau “Aku bukan ibu yang baik” atau “Aku tidak mungkin bisa membesarkan anakku dengan baik” atau “Lebih baik aku mati saja”.
Dalam kondisi ini, SEGERA minta bantuan dokter atau psikolog. JANGAN dipendam sendirian, berbahaya!
Kalau depresi si ibu tidak diatasi, banyak masalah yang akan terjadi, antara lain: depresi akan menumpuk dan ketika si ibu melahirkan anak berikutnya, dia akan menderita depresi yang lebih parah lagi.
Sumber: http://www.kafebalita.com
Artikel Terkait:
Posisi Bersalin, Mana yang Terbaik?

