Ditulis oleh farida | Ditulis di balita, bayi, hidup sehat | Ditulis tanggal 22 Jun 2009
Banyak faktor yang dapat menghambat perkembangan si kecil. Salah satunya yang menyerang bagian mata. Ketahuilah sebelum terlambat.
Selama 12 tahun pertama kehidupan anak, 80% informasi didapat melalui penglihatan. Oleh sebab itu, penglihatan anak harus sempurna dan terang.
Cara bekerjanya, semua cahaya akan diterima oleh retina, lalu dijabarkan dan direspon kembali oleh otak, hingga si kecil tahu apa yang dilihatnya.
Pentingnya Peran Mata Untuk Kecerdasan
Proses belajar bayi sebagian besar didapat dari pendengaran, penglihatan dan sentuhan. Jika rangsangan dari ketiga faktor tersebut dapat diterima dan direspon dengan baik, maka kemampuan kecerdasan si kecil pun dapat berkembang optimal.
Sel retina pada mata berasal dari sel neuroektodermal (lapisan terluar saraf), begitu juga dengan sel otak. Kedua sel tersebut saling berhubungan, sehingga jika penglihatan anak bagus, maka input yang masuk ke otak akan lebih bermanfaat. Semakin banyak yang dilihat oleh si kecil, semakin kuat hubungan antarsel saraf di otak. Jika penglihatannya remang-remang, maka pertumbuhan retina terhambat dan otak tidak bisa memberikan respon karena tidak ada informasi yang masuk.
Bahaya Sinar Biru
Begitu pentingnya peran mata bagi perkembangan kecerdasan si kecil, maka sebaiknya Anda tahu bahaya apa yang dapat mengancam bagian yang sangat sensitif ini.
Ketika bayi dilahirkan, lensa matanya masih bening. Kemudian secara bertahap akan berubah menjadi kuning, sejalan dengan usianya. Perubahan warna lensa itulah yang menghambat secara progresif sinar biru yang melewati lensa. Maka, semakin bertambah usia manusia, semakin kecil risiko terganggunya lensa akibat sinar biru. Sebagai perbandingan, secara prosentase sinar biru yang mencapai retina pada usia 0-2 tahun sebesar 70-80%, sedangkan pada usia 60-90 tahun hanya 20%. Jadi memang risiko terbesar terjadi pada anak usia balita.
Lalu apa sebetulnya sinar biru itu?
Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang 400-500 nm (nanometer). Sumber terdekatnya adalah lampu neon, layar televisi serta komputer.
Risiko kerusakan terjadi tergantung dari panjang cahaya, intensitas serta durasi paparan. Misalnya jika seorang anak terlalu lama nonton televisi dari jarak yang dekat maka risiko kerusakannya tentu lebih besar.
Pada anak-anak, sinar biru ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, seperti rabun jauh (myopia). Jika hal ini terjadi pada anak ketika ia mulai bersekolah, tentunya ia akan mengalami kesulitan membaca. Prestasinya pun bisa dipastikan akan terganggu.
Lindungilah Matanya
Perlindungan terhadap bahaya sinar biru harus dilakukan sedini mungkin. “Anda bisa mulai melindungi mata si kecil, misalnya dengan mengurangi jatah nonton televisi dan menjaga jarak pandangnya agar tidak terlalu dekat,” kata Dr. Caroline Sp.A dari RS Omni Medical Centre di bilangan Sunter. Selain itu anak diberi asupan makanan yang kandungannya dapat melindungi mata. Salah satu zat yang berfungsi untuk melindungi mata adalah lutein. Lutein adalah caretenoid alami yang terdapat pada ASI, sayuran dan buah-buahan. Namun karena tubuh tidak dapat mensintesakan lutein, maka sebaiknya kebutuhan lutein juga dibantu dengan asupan dari luar. Lutein dapat ditemukan di semua buah-buahan yang berwarna merah, oranye dan kuning. Misalnya tomat, wortel, juga bayam. Kecukupan lutein kelak akan menjamin perkembangan mata yang sehat pada bayi dan anak, yang akan berdampak kepada lancarnya proses belajar si kecil. Jadi, tidak sia-sia ‘kan, usaha Anda membujuk si kecil makan sayur?
Sumber: http://www.motherandbaby.co.id
Artikel Terkait:

